THREE SECONDS

pt. 1


    Ini menjadi kali pertamaku sebagai siswa baru di SMA Negeri; pasti akan sangat menyenangkan. Masa orientasi hari pertama sudah kulewati, berjalan dengan baik tanpa rasa takut ataupun rasa tidak nyaman. Hari ini menjadi hari kedua masa orientasi sekolah, tapi sepertinya aku meninggalkan sesuatu di kamar.

“OH TIDAK, KALUNG IDENTITASKU!”

    Melihatku yang heboh sendiri, sosok pria berambut hitam sedikit kecoklatan dengan tubuh tinggi dan kurus menghampiriku. Dia adalah Kak Gio; kakak fasil di kelas X MIPA 1.

“Dimana kalung identitasmu?” tanya Kak Gio.

“Aduhh.. maaf kak, kalungnya tertinggal di kamar, jadi aku tidak membawanya,” jawabku dengan rasa takut.

    Mendengar jawabanku Kak Gio langsung meninggalkanku tanpa mengatakan sesuatu. Dari gosip yang ada, Kak Gio terkenal dengan sifat dingin dan tak pernah tersenyum. Tapi, sebenarnya wajah datar dengan alis tebalnya itu memperlihatkan aura tampannya.

    Pagi ini jadwalnya pelatihan PBB. Aku dan teman yang lain, segera menuju ke lapangan untuk mengikuti pelatihan. Aku bersama ke-5 temanku memilih berdiri di barisan ketiga dari belakang.

“Cepat pakai ini, aku sudah menuliskan biodatamu disana,” ujar Kak Gio yang mengejutkanku saat memperhatikan Pak Doni mengajari cara berbaris.

“Oh, terima kasih kak. Tapi bagaimana kakak mendapatkan kalung ini? Bukankah kemarin kalungnya sudah habis dan tidak ada penukaran?” tanyaku.

“Tidak perlu tahu. Pakai saja, bapak yang mengajarimu nanti sangat tidak suka melihat siswa yang tidak disiplin,” jawabnya dan langsung meninggalkanku.

    Dengan cepat aku segera memakai kalung identitas baru itu. Apa yang dikatakan Kak Gio benar. Aku melihat ada beberapa siswa yang dihukum karena tidak disiplin dalam berpakaian. Usai pelatihan selesai, aku mencari Kak Gio di kelasnya saat jam istirahat. Aku melihatnya sedang berdiri di koridor depan pintu kelas XI MIPA 9. 

“Terima kasih kak sudah memberi kalung identitas yang baru. Hmm.. Apa yang harus aku lakukan untuk membalas kebaikanmu?” tanyaku.

“Tidak perlu,” jawabnya dingin.

“Ayolahh.. aku ingin membalas kebaikanmu yang telah menyelamatkanku dari Pak Doni, bila tidak ada Kak Gio...”

“Kuantarkan pulang saja. Nanti kutunggu di parkiran,” jawabnya memutus perkataanku.

“Kenapa begitu? Apa tidak ada yang lain? Bagaimana jika aku traktir makan mie depan sekolah?” pintaku.

    Kak Gio masuk ke dalam kelas tanpa mengucapkan sepatah katapun. Entah apa yang harus kulakukan. Aku berjalan kembali ke kelas untuk menyiapkan pelajaran selanjutnya sebelum Mr. John datang. Hari ini sebenarnya cukup singkat karena hanya ada 2 mata pelajaran. Jam menunjukkan pukul 13.05; bel sudah berbunyi anak-anak yang lain pun terlihat gembira kembali ke rumah. 

Arah jalan pulang keluar gerbang sekolah harus melewati tempat parkir sepeda motor siswa. Dengan ragu aku menghampiri Kak Gio yang sudah menunggu. Aku tidak bisa menolak permintaannya karena aku juga tidak ada tumpangan untuk pulang dan cukup uang untuk naik bis. 

"Apa tidak apa - apa aku membonceng?" tanyaku ragu. 

"Cepat naik dan pakai helm, pintu gerbangnya akan semakin sempit jika kau terus menanyakan hal ini," tegasnya. 

    Akhirnya aku membonceng motor Kak Gio, walau sebenarnya aku keberatan dengan ini. Namun, bila dipikir kembali untuk apa aku menolak permintaannya yang ingin mengantarku pulang. 

    Sesampainya di rumah, ibu mengajak Kak Gio untuk makan siang bersama. Aku merasa ada yang berbeda saat dia sedang makan. Wajahnya terlihat lebih ceria disbanding saat di sekolah; senyumnya yang lebar membuat aku tidak fokus pada makananku. Aku membayangkan ekspresi teman – temanku melihatnya tersenyum, mungkin sebagian siswa putri akan pingsan karena melihat senyum lebarnya. Apa itu alasannya Kak Gio jarang tersenyum di sekolah?

    Sejak hari itu, aku terus memikirkannya tiap malam. Aku merasa ada sesuatu yang tertahan. Apa dia juga memikirkanku? 

“Apakah ini nyata? Apa aku benar - benar menyukai Kak Gio?" batinku dengan menatap ke arah luar jendela kamar. 

 





bersambung…

Komentar