THREE SECONDS pt.2
Ternyata, semakin tinggi sekolah makin sulit memahami pelajaran. Baru 2 minggu menjadi
siswa menengah atas saja, sudah mendapat tugas Fisika dan Matematika. Sudah
menjadi kebiasaanku yang selalu mencari kakak tingkat yang bisa kupinjam buku –
bukunya sekaligus mengajariku mata pelajaran yang benar - benar tidak kupahami; namun, sayangnya sampai minggu kedua ini aku
belum menemukannya.
Tugas yang menumpuk membuatku dan beberapa teman satu kelasku pulang hingga matahari hampir terbenam. Sekolah mulai sepi, dan hanya tersisa beberapa siswa laki-laki kelas 12 sedang bermain basket di lapangan. Aku berjalan ke arah gerbang keluar dengan rasa bosan dan penat. Rambut ikal sebahuku yang awalnya diikat setengah, sekarang terlihat sangat berantakan; karena malas merapikan, akhirnya rambut ombre coklat ini kubiarkan tergerai.
“Untukmu,” ujar Kak Gio menyodorkan es krim vanilla stroberi.
“Wahh… terima kasih kak,” jawabku menerima sambil berjalan untuk pulang.
“Habiskan es krim itu lalu kita pulang bersama,” kata Kak Gio tiba – tiba menghentikan langkahku.
“Baiklah,” jawabku menurut.
Sebenarnya Kak Gio sudah mengantarku pulang beberapa kali, aku merasa tidak nyaman, tapi entah mengapa aku tidak bisa menolaknya. Sesampainya di rumah, aku melihat ibu sedang memberi minum pada Nikko, anjing kecil kesayanganku, menungguku di depan rumah. Aku memperkenalkan Kak Gio pada ibu dan sebaliknya.
“Terima kasih sudah mau
mengantarku pulang,” kataku.
“Terima kasih juga sudah
mengijinkan untuk mengantarmu pulang. Aku duluan, mau ada les” ujar Kak Gio.
“Tidak mau masuk untuk istirahat dan makan sebentar?” tanyaku.
“Hmm… lain kali saja.
Lagipula aku bisa ke sini kapan saja, kan? Baiklah aku pergi dulu.” Aku
terkejut saat Kak Gio berkata seperti itu, seperti udara berhenti seketika. Tak
lama setelah Kak Gio pergi, ayah datang membawa sesuatu yang aku inginkan sejak
hari Minggu kemarin.
“Ayah sudah pulang?”
tanyaku.
“Ayah kembali karena tadi ada barang ayah ada yang tertinggal, ayah membawakanmu pizza ini; ayah diberi oleh teman ayah yang tadi mendapat bonus saat membeli pizza. Kamu pasti lapar kan, cepat makan ini.” jelas ayah.
Usai makan siang, sisa pizza yang masih ada kuletakkan di wadah untuk dimasukkan ke dalam kulkas, agar bisa dimakan nanti malam. Jam menunjukkan pukul setengah 3 sore, tapi tugas sekolah masih menumpuk tak kunjung selesai. Aku yang awalnya berencana mengerjakan tugas matematika dengan Wina malam nanti, tertunda, karena Wina ada jadwal les biola. Aku memutuskan untuk tidur sebentar, mengistirahatkan otak dan berharap setelah bangun bisa mengerjakan tugas dengan lancar.
“Getaa, ini sudah jam 6, cepat bangunn!! Ibu sudah menepati janji untuk membangunkanmu jam 6, jangan salahkan ibu kalau tugas mu tidak selesai-selesai!” teriak ibu.
Jika tidak mengingat tugasku yang tak kunjung selesai, aku pasti akan melanjutkan tidurku. Dengan mata yang masih terpejam, aku berdiri mengambil handuk dan pergi mandi. Selesai mandi dan mengenakan baju favoritku, aku kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas matematika. “Baru sampai nomor 5 saja sudah kebingungan begini bagaimana bisa nilai ulanganku tuntas minggu depan?” keluhku dalam hati.
“Getaa!! Temanmu datang! Cepat keluar temui dia,” teriak ibu. “Loh, bukannya Wina tidak bisa? Kenapa tidak mengabari lebih dulu?” gumamku. Aku segera beranjak dari lantai yang penuh kertas matematika sedikit berlari menuju luar rumah. Aku melihat sosok bertubuh tinggi yang tidak asing denganku. Sosok pria dengan kaos hitam dan celana jeans, membuatku sedikit terheran dan bingung dengan kedatangannya. Ya, dia Kak Gio.
“Aku bisa membantumu mengerjakan matematika,” katanya.
Aku yang semakin bingung darimana dia tahu aku sedang mengerjakan tugas matematika. Aku mempersilahkan Kak Gio untuk masuk dan duduk di ruang tamu, meninggalkannya sementara untuk membereskan buku - buku di kamar untuk dipindah ke ruang tamu.
Kak Gio membantuku menyelesaikan semua tugas hingga tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 21.10. Hujan deras datang tiba - tiba. Kak Gio yang ingin berpamitan pulang, dicegah Ibu untuk menginap di rumah malam ini.
"Makan malam kalian sudah siap, silahkan menikmati" kata Ibu.
"Hmm... dari baunya saja sudah enak begini, pasti rasanya sangat enak," puji Kak Gio.
"Sudah pasti kalau itu, Ibu ini sangat jago dalam hal memasak, hahaha" canda Ibu.
Dengan ditemani Nikko dan sambil menyantap makan yang ibu buat, kami berbincang banyak hal. Mulai dari hobi, rutinitas, sampai impian kami masing-masing.
"Aku mengetahui dari Wina. Dia adikku." jelasnya.
Aku baru mengetahui bahwa Wina adalah adik Kak Gio. Aku tak pernah melihat Wina pulang bersama kakaknya, bahkan melihat mereka berbincang saja hampir tidak pernah. Namun, semenjak itu aku semakin dekat dengan Kak Gio; hingga akhirnya kami berkencan. Dia mengatakan saat memberi kalung identitas untukku, sebenarnya Kak Gio sudah menyimpankan satu kartu untukku. Saat itulah, dia menyadari cukup 3 detik saja untuk jatuh cinta pada siswa baru.
“Tiap detik ke 3 menjadi detik yang paling berharga untukku.. disana ingatanku tentangmu selalu hadir menemani.”
Ceritanya bagus, Nda. Lanjutkeun yaa!
BalasHapusMakasii mas 🍭🍓
HapusSiapp