Ini menjadi hari ke-3 aku menginap di rumah seorang pria tinggi bernama Logan. Aku membuat salad dan french bread toast dengan potongan stroberi lengkap beserta madu, sementara Logan sedang berlatih renang untuk kompetisi renang yang akan dilaksanakan 14 hari kedepan di Seoul, Korea. Ya, hari ini menjadi hari terakhirku bertemu Logan sebelum nanti malam aku mengantarnya ke bandara.
Bicara tentang Logan, ia adalah orang pertama yang memberiku gelang kepang warna merah. Kami menjadi teman baik semenjak usia 5 tahun, dia teman satu kelas kakakku, Kak Vano. Setelah keberangkatannya ke Korea untuk pertandingan, Logan sama sekali belum kembali ke Indonesia; dia mengirim pesan bahwa dia akan pergi ke Jerman dan tinggal disana karena Om Matthew, ayah Logan, akan sibuk membuka toko sepatunya di Jerman dan di beberapa negara lain, maka Logan harus membantu mengurus toko-toko itu. Perpisahan ini di luar dugaan, hari-hariku menjadi sangat berbeda dengan ketidakhadiran Logan disini.
Ia tak pernah lupa untuk mengirimiku pesan ataupun meneleponku tiap kali akan tidur malam. Aku sangat yakin, dia adalah orang yang sangat baik, walaupun kami berada di tempat yang berbeda dan di waktu yang berbeda, tapi kami selalu bisa merasakan kehadiran satu sama lain. Logan selalu mengatakan 'If you know and believe he/she is your last choice just tell him/her how you feel. Because as long as there is one person who looking for happiness with you, your life is worth living.'
Sore ini aku mengunjungi rumah Logan yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Aku mengajak Kak Vano dan Venzo, anjing ras pug miliknya. Rasa rinduku sedikit terobati saat berada di rumah Logan, aku membuat camilan kecil dengan bahan yang masih tersisa disana. Kak Vano berenang dengan Venzo lalu aku menyusul mereka beberapa menit kemudian setelah menyelesaikan kue yang aku sebut dengan strawberry white chocolate chip cookies and lemon squash. Akhir - akhir ini Logan sibuk mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas bergengsi di Inggris, Cambridge Univercity. Pukul 19.00 WIB, aku, Kak Vano dan Venzo kembali ke rumah, karena teman Kak Vano akan sampai 20 menit lagi untuk mengantar buku pesanan kakak. Sampai di rumah, aku menemani Venzo yang terlihat masih ingin bermain denganku. Tiba-tiba ada suara motor yang berhenti di depan rumah, aku segera membukakan pintu gerbang, karena kupikir itu teman Kak Vano; ternyata itu dari jasa pengantar barang.
"Ini mbak, paketannya," ujar pengantar paket.
"Tapi saya tidak memesan apa - apa itu?" jawabku bingung.
"Saya hanya mengantar sesuai alamat tujuan dan itu benar di sini," kata pengantar paket sambil menyerahkan paketan padaku. Aku membawa paketan itu lalu membukanya di teras depan rumah. Tak lama, ponselku berdering.
"Apa kamu sudah menerima paketannya? Aku tahu pasti kamu merindukanku, jadi aku mengirim beberapa kue, buku, pakaian dan jaketku untukmu," ujar Logan.
"Ck, kau ini tidak pernah berubah ya, jika tadi kau tidak langsung meneleponku, aku pasti menolak paketan ini. But, thank you so so much, baby. I'm so happy right now and I'll be wearing your jacket at the school event tomorrow. Love ya," kataku sangat bersemangat.
"I'll take you tomorrow," katanya. "Come again? You're here? You're back?" tanyaku dengan nada tidak percaya. "Open the door, please, I've been waiting here for a long time," ujarnya singkat. Segera aku membukakan gerbang rumah dan aku melihat sosok pria dengan jaket smurf bermotif sama dengan paketan yang aku terima dan bercelana coklat dengan sandal slopnya. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluknya erat - erat, melepas rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
"Besok sore kita berangkat. Malam ini bersiaplah," ujarnya.
Ini benar - benar seperti mimpi. Aku akan pergi ke Amerika bersama Logan setelah acara sekolah usai. Malam ini Logan menginap di rumahku. Bersama Kak Vano, ia membicarakan masa kecil mereka sambil bermain game FIFA 18. Aku pergi ke kamarku dan mempersiapkan segala hal yang akan kubawa besok, usai selesai acara di sekolah. Sekitar 45 menit kuhabiskan untuk menyiapkan perlengkapan, aku kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas air putih dan beberapa camilan untuk Kak Vano dan Logan. Namun ternyata, mereka berdua justru sudah tertidur entah sejak kapan.
"Huhft, dasar dua lelaki yang tidak tahu tempat, seharusnya kalau sudah lelah mereka menyudahi permainan ini dan pergi ke kamar untuk tidur bukan malah tidur di sini. Sama saja mereka yang main, aku yang membereskan. Dasar merepotkan!" gerutuku. Aku mematikan televisi dan mengambil selimut di kamar Kak Vano untuk Logan agar tidak kedinginan.
keesokan paginya... terdengar suara orang tertawa samar-samar dengan suara sedikit nyaring dan orang menyebut sesuatu; suara yang cukup terdengar jelas dan keras mencekam suasana pagi yang cerah ini.
"Van, apa sekarang rumahmu seangker ini?" tanya Logan. "Ck, itu dia selalu pasang alarm dengan suara samar - samar hantu; kurasa dia melatih agar dirinya tidak takut saat aku tidak bersamanya," jelas Kak Vano. Suara alarm yang tak kunjung diam membuat Logan mendatangi kamarku mematikan alarm sekaligus membangunkanku untuk segera bersiap ke acara sekolah. Tapi, justru Logan kembali ikut bergabung tidur denganku setelah mematikan alarm. Kak Vano menyadari Logan yang tidak segera kembali ke dapur, akhirnya menyusul ke kamar dengan membawa satu ember penuh lengkap dengan gayung untuk menyiramku dan Logan. Melihat hal itu, dengan cepat aku bangun dan berdiri mengambil handuk untuk mandi, sementara Logan berlari kembali dapur.
"Sarapan siap!" ujar Kak Vano. "Dek, ayoo cepat sarapann!" lanjutnya.
"Iyaaa sebentar!" teriakku. Aku menuju meja makan setelah selesai memakai seragam hari ini dan meletakkan tas beserta blazer di kursi teras rumah.
"Kakak aku berangkat! Sampai nanti, aku menyayangimu!" pamitku dengan Kak Vano sambil memeluknya. Hari ini Logan yang mengantarku ke sekolah, sesuai janjinya malam tadi; ia akan mengunjungi rumahnya untuk membawa barang-barang yang akan dibawa dan membersihkan rumah yang sudah lama tidak ditempatinya itu.
usai acara sekolah ...
"Bye, girl! Be careful, don't forget to let me know, okey?" ujar Tere, temanku.
"Okay I promise, thank you. Bye girls!" jawabku sambil memeluknya.
Aku segera menghampiri mobil yang berada di depan gerbang sekolah, saat melihat Logan sudah menungguku di sana. Di tengah perjalanan pulang, aku membeli kue leker favorit kami untuk mengisi perut sebelum keberangkatan pesawat sekitar 1 jam 30 menit.
Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berganti pakaian. Aku mengenakan crop tank top rajut warna hijau tua dengan celana pendek putih dan jaket smurf pemberian Logan. Aku berpamitan dengan Kak Vano, satu - satunya orang yang selalu menjagaku semenjak kedua kakakku yang lain sekolah di luar negeri. Aku sangat sedih harus meninggalkannya sendiri di rumah, tapi aku juga ingin pergi bersama Logan. Setelah memasukkan barang ke dalam mobil, aku memeluk erat Kak Vano terakhir kalinya dan segera berangkat.
"Jaga dirimu di sana, jangan selalu merepotkannya," pesan Kak Vano.
"Kau pikir aku anak umur 3 tahun? Kakak tidak perlu cemas, " jawabku sedikit kesal.
"Tentu saja aku cemas! Kau sudah kelas 2 SMA tapi sikapmu tidak pernah menunjukkan kau pelajar SMA, but why are you so easy to say I don't have to worry? jawab Kak Vano.
"Hei, dasar kau ini, kau harusnya bersyukur kakakmu mencemaskamu, lagipula kau akan tetap sama seperti anak kecil dimata kakak-kakakmu itu. Tak peduli berapa usiamu," kata Logan memarahiku.
sampai di bandara...
Setelah melakukan check-in, tak lama kemudian aku dan Logan masuk ke pesawat. Tak lupa untuk mematikan ponsel kami masing - masing. "Good Bye Surabaya!" batinku sambil melihat keluar jendela.
Menempuh perjalanan selama kurang lebih 24 jam 55 menit, membuat badanku sangat sakit, karena aku tidak terbiasa dengan penerbangan yang sangat lama dan sejauh ini. Tapi bagi Logan, ini merupakan perjalanan yang cepat. Kami menginap 3 hari di Manhattan tepatnya di rumah Miguel, kakak Logan, sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Pittsburgh, Amerika Serikat. Manhattan adalah kota yang sangat indah, Logan mengajakku berkeliling di beberapa tempat, seperti National September 11 Memorial & Museum, Time Square dan Chelsea Market.
"Jangan sampai ada yang ketinggalan, aku tidak akan mengantarmu kembali kesini saat kau bilang barang mu ada yang tertinggal," tegas Logan padaku.
"Iya, aku janji tidak akan ada satupun barang yang tertinggal, lagipula aku sudah mengecek segala perlengkapanku di kamar, dan aku yakin kamarnya sudah bersih," jawabku santai.
"Benarkah? Apakah MP3 Player kesayanganmu itu sudah kau bawa?" tanya Logan.
"Ah! Iya, astaga aku melupakannya! Terima kasih sudah mengingatkan, tap.. tapi.. kurasa aku lupa dimana aku menaruhnya 👉👈" jawabku santai tapi juga sedikit panik.
"Sudah kuletakkan di mobil, tenang saja, tapi lain kali lebih teliti. Sekarang pakai jaketmu itu, dan cepat masuk ke mobil," ujar Logan.
Aku dan Logan menuju salah satu terminal yang ada di Manhattan dengan diantar Miguel. Kami memilih menggunakan megabus untuk menyingkat waktu perjalanan menuju Pittsburgh, lagipula kami tidak mengeluarkan banyak uang untuk membayar bus trip ini. Perlu waktu hampir 8 jam untuk sampai ke Pittsburgh, namun aku sangat menikmati perjalanan ini.
sampai di Pittsburgh ...
"Hei, hei, bangunlah, kita sudah sampai," bisik Max.
"Ehmm? Jangan membohongiku!" jawabku malas.
"Hei! Aku tidak berbohong, tapi.. Jika kau tak mau turun, tak apa, aku akan turun dan membiarkanmu disini," jawab Logan.
"Yaa!! Aku hanya bercanda. Jangan menganggapku terlalu serius, lagipula aku juga mendengar apa yang dikatakan orang itu tadi," jawabku kesal.
"Kau bilang bercanda? Apa aku terdengar sedang bercanda, huh? Ck.. dasar bodoh!" kata Logan. "HURRY UP!" lanjutnya.
"Hmm.." jawabku.
Logan menarik tanganku untuk segera turun dan mengambil barang - barang bawaan, setelah itu kami berjalan keluar sambil mencari restoran karena aku sudah sangat lapar. Kami tiba di sebuah restoran bernama Supper On Penn, Logan memesan banyak makanan, mungkin dia juga sama laparnya denganku. "Hmm... wow! The fried chicken thigh and the chickpea fries are so good!" kataku sambil menikmati. "Ah, would you try the hamburger with duck fries? I think this is so delicious and I'm sure you'll love it," ujar Logan menawarkan.
Usai makan siang aku dan Logan kembali berjalan sambil membawa barang bawaan kami masing - masing. Meski barang kami cukup banyak, namun aku sangat senang bisa berkeliling dan melihat Kota Pennsylvania. Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, Logan mengajakku untuk menggunakan kereta bawah tanah menuju ke rumahnya. Hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk sampai di wilayah tempat tinggal Logan.
"Bisa kau tunjukkan dimana kamar mandimu? Aku ingin segera mandi dan beristirahat," tanyaku sampai di rumahnya.
"Ada di dalam semua kamar, dekat tangga, dan sebelah dapur; kau bisa menggunakannya, dan sudah tersedia segala alat yang kau butuhkan disana," jelas Logan. Aku langsung masuk ke salah satu kamar dan pergi mandi.
keesokan harinya 🌄
Sorotan cahaya matahari yang masuk menghangatkan suhu ruangan tempatku mengistirahatkan badan. Logan masuk ke kamarku bersama dengan Molly, anjing besar jenis husky. Tiba - tiba aku berpikir ingin memberi teman baru untuk Molly. Sebelum pergi, kami membuat roti panggang madu dengan potongan strowberi dan telor orak-arik favorit kami, lengkap dengan banana smoothies with peanut butter.
"What kind of dog would you like to buy later?" tanya Logan.
"Mmm... How about a chow chow? Or maybe pomenarian? Or you have any idea?" jawabku.
"I think Molly akan suka mendapat teman pomenarian," usul Logan.
"Oh that's good, but " jawabku.
"Bagaimana kalau kita membeli keduanya?" usul Logan.
"Oh, really? you sure? you're not kidding?" tanyaku terkejut. "Yes, I'm sure, I'm not kidding," jawabnya. Sesampainya di toko hewan peliharaan, aku melihat - lihat sambil memilih anjing yang mana yang akan aku beli. Tidak membutuhkan waktu lama untuk memilih dan segera aku membayarnya di kasir.
"Have you thought about their names?" tanya Logan.
"Mmm.. no, any idea?" jawabku.
"I want to name the big one, Casper, cause he looks scary when he's silent but he gets really cute when he moves, hahaha" ujar Logan.
"Hahaha.. Itu benar, dia memiliki dua sisi yang berbeda di dalam dirinya. Casper... that's good I guess," jawabku. "Lalu untuk anjing kecil ini aku ingin memberinya sebutan Mochie," lanjutku.
Dari toko hewan peliharaan, Logan mengajakku untuk pergi ke taman, sambil membawa Casper dan Mochie. Taman yang luas ini cukup ramai dengan beberapa anak yang sedang menemani orang tuanya berolahraga ataupun hanya mencari udara segar. Saat kami sedang duduk sambil berbincang, tiba - tiba ada anak kecil yang umurnya kira - kira 2 tahun datang menghampiri Logan dan memeluknya.
"I guess he thought that you were his father, hahaha..." kataku.
"What is your name buddy?" tanya Logan. "I... I'm Brooklyn, I've been... I've... I've been around this place 3 times and I'm so tired now ... huhh." jawab anak kecil bernama Brooklyn itu dengan terengah-engah.
"Oh really? That's so cool, do you want some drink? I will buy for you Brooklyn," kataku.
"Thanks, mm yeah I think I need some drink, mm can you ... can you give me a small glass of water?" pintanya.
"Yea sure, wait a minute," jawabku. Segera aku membeli air mineral untuk Brooklyn dan memberinya untuk segera meminumnya.
"Hey Brooklyn, what are you doing here? Are you bothering them?" tanya seorang bapak menghampiri kami, sepertinya itu ayah Brooklyn.
"No, your kid is kind and smart, he only asked for drinking water because he was tired and he thought I was his father hahaha," jelas Logan.
"Oh hahaha thank you for looking after it. Thank you so much," jawab bapak tadi.
Sekitar 20 menit kami duduk santai di taman, kami berpindah tempat ke Crane Village Apartments dimana Trevor dan istrinya, Christina, tinggal. Trevor adalah tetangga lama Logan saat di Jerman, sementara Christina adalah sepupunya. Trevor dan Christina bertemu saat Trevor berada di rumah Logan untuk membahas tim basket mereka, sementara Christina juga berada di sana untuk membuat vlog baru bersama adik Logan. "Pertemuan yang manis, bukan?" batinku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 tapi matahari masih belum terlalu terbenam, aku dan Logan berjalan
menyusuri sepanjang jalan menuju rumah Logan. Menikmati sore yang
indah sambil meminum Day One, soda kaleng rasa lemon. Jalan yang sepi
dengan pemandangan lampu kota yang mulai menyala, menambah kesan yang tak akan aku lupakan. "Have fun guys!" kataku sambil mengelus bulu kedua anjing itu yang sama - sama berbulu tebal.
“Do you want that peanut butter bread?" tanya Logan sambil
menunjuk penjual roti yang berada di ujung jalan.
“Ya aku mau, tapi aku tidak membawa uang; apa kamu
masih memiliki cukup uang untuk membelinya?” jawabku.
“Tentu saja, tersisa beberapa dolar yang masih kubawa.”
ujar Logan.
Aku memesan roti selai kacang dengan
taburan madu, sementara Logan memesan pie blueberry nutella krim. Penjual roti
yang sangat ramah, mengajakku berbincang bersama, bertukar cerita, dan bersenda
gurau.
“Apa kamu yakin memesan roti selai dengan taburan
madu? Apa kamu tidak takut kekasihmu ini sakit, huh?” tanyanya.
“Apakah aku salah memesan? Sejak kapan kau tidak suka memakan madu?” jawabku bingung.
“Tidak, tidak, bukan seperti itu. Wajahmu sudah manis,
dan madu berkualitas ini juga manis. Kau bisa membuat
kekasihmu itu terkena penyakit gula saat melihatmu memakan ini,” ujar penjual roti
itu menggoda.
“Hahaha … kalau begitu jangan berikan nutella pada
rotinya untuk mengurangi risiko itu, buatkan saja roti dengan irisan buah,” jawabku terkekeh.
Sementara aku berbincang dengan penjual
roti itu dan beberapa pembeli lainnya, aku tidak menyadari bahwa pria dengan
gaya rambut curtain, sudah tidak ada
di sampingku.
“Dia pergi kemana? Kenapa tidak memberi tahuku jika
dia pergi? Apa aku yang tidak mendengarnya?” batinku. “Mochie, apa kau tahu kemana perginya Logan?” tanyaku mengajak bicara.
Tak lama, roti yang kami pesan tadi, sudah
siap untuk disantap; namun, aku belum melihat sosok Logan kembali. Aku memutuskan
kembali berjalan pulang ditemani kedua anjingku tanpa Logan. Di tengah
perjalanan, aku melihat sosok pria yang tidak asing bagiku, dengan hoodie berwarna
jingga, berdiri di dekat mobil. Aku berlari kecil menghampirinya.
“Logan! Sedang apa kamu disini? Kenapa tadi kamu
meninggalkanku disana?” tanyaku sedikit kesal.
“Oh, I'm sorry Kim, aku tidak mengatakan apapun tadi.
Aku melihat kakek membawa tumpukan kotak dari tempat kita berdiri tadi, lalu
aku menghampiri untuk membantunya,” jelas Logan.
“Baiklah, tapi lain kali beri tahu aku terlebih dulu,
agar aku tidak menunggumu lama disana.” jawabku.
Logan melanjutkan mengangkat beberapa kotak
dari mobil, sementara aku membantu memasukkan kotak ke dalam rumah. Sepertinya kakek
ini dulunya seorang pelukis, aku mendapati banyak lukisan di dalam rumahnya.
Barang – barang yang ada di dalam kotak pun isinya kaleng cat dan kanvas lukis.
“Were you a painter? I saw many
beautiful paintings here” tanyaku pada pria yang kira – kira berusia 80 tahun.
“Ya, aku seorang pelukis di masa
muda,” jawab pria itu.
Aku terkejut mendengar
jawabannya yang menggunakan bahasa Indonesia. Logan dan kakek James tertawa
terbahak – bahak melihat ekspresiku yang terkejut, tidak menyadari bahwa kakek
James yang selalu merawat dan menjadi teman Logan saat dia merasa tidak baik. Logan juga cukup sering ke rumah kakek James hanya sekadar mengantar makanan.
“Mari masuk ke dalam kita makan bersama,” ajak kakek.
“Baiklah, tapi kali ini biarkan aku dan Kimber yang akan
memasak untukmu,” pinta Logan. “Kau harus mencoba masakan kekasihku ini,
lalu beri tahu aku apa dia pantas menjadi istriku nantinya?” bisik Logan pada
kakek yang masih terdengar jelas di telingaku.
“Memang kalau rasanya tidak enak, apa kamu akan
memutus hubungan denganku dan membiarkanku berkencan dengan Jacob ?” tanyaku sambil menggoda.
“Tentu saja aku akan memutuskanmu, tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu berkencan dengan Jacob, pria tak berguna itu.” jawab Logan dengan
nada kesal karena dia sangat membenci Jacob, teman Logan yang pernah membiarkanku
membeku di luar rumah kala hujan salju.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam, aku
masih terjaga sambil menikmati indahnya kota Pittsburgh dari balkon ditemani Casper. Kakek sudah tertidur setelah menyantap makan malam; sementara Logan masih
sibuk dengan tugas kuliahnya. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Logan;
dia selalu menjagaku dimanapun. Aku tidak bisa membayangkan hidupku
tanpanya.
“Stay with me, Logan; promise me not to leave me alone,”
bisikku pada Logan sambil memeluknya dari belakang.
kerenn>< tetap semangat nuliss
BalasHapusBagus. Lanjutkan hobi menulisnya.. semangat
BalasHapuskeren mbak manda..besuk varrel di ajarin nulis ya 😁
BalasHapus